Selasa, 30 Juli 2013

Dalam Perundingan di Washington, Jurang Perbedaan Israel-Palestina Masih Lebar


YERUSALEM — Perundingan baru antara Israel dan Palestina terjadi setelah hampir lima tahun macet serta sikap skeptis mendalam dari kedua belah pihak. Perundingan selama 20 tahun yang beberapa kali macet gagal mencapai perjanjian perdamaian final dengan pendirian negara Palestina.

Ketua-ketua perunding Israel dan Palestina akan berupaya menyelesaikan kerangka perundingan yang akan membahas isu konflik yang paling sulit seperti status Yerusalem, pengungsi Palestina, pemukiman Yahudi dan perbatasan-perbatasan akhir.

Ada jurang perbedaan yang lebar antara Israel dan Palestina tapi kembali ke perundingan langsung menunjukkan kedua pihak siap berdamai.

Ketua perunding Israel, Tzipi Livni mengatakan perundingan-perundingan ini akan “sangat kompleks dengan tetangga yang sangat sulit”. Tapi ia mengatakan perundingan damai diperlukan untuk mempertahankan Israel yang aman dan demokratis dan mereka memulainya dengan kehati-hatian dan harapan.

Harapan Palestina sedikit dan ketidaksepahaman sudah mengemuka mengenai masa depan perbatasan sebuah negara Palestina. Pejabat Palestina mengatakan perundingan harus didasarkan pada penarikan mundur Israel dari kawasan-kawasan yang direbutnya selama perang Timur Tengah termasuk Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Pejabat Palestina juga menuntut pembekuan pembangunan pemukiman Yahudi di kawasan-kawasan yang disengketakan.

Mutstafa Barghouti, seorang anggota Dewan legislatif Palestina mengatakan proses perdamaian itu bermasalah.

Ia mengatakan, "Kesepakatan yang diumumkan itu rapuh. Jelas Israel tidak menerima perbatasan 1967 sebagai prasyarat untuk negosiasi ini dan Israel juga akan terus membangun pemukiman sementara perundingan berlangsung. Ini benar-benar akan merongrong potensi suksesnya perundingan."

Israel mengatakan perbatasan 1967 tidak dapat dipertahankan, Yerusalem tidak bisa dirundingkan dan masa depan pemukiman-pemukiman itu akan ditentukan dalam perundingan langsung.

Menjembatani jurang tersebut akan menjadi tantangan bagi para perunding Israel dan Palestina serta Amerika sebagai penengahnya. Tapi untuk melancarkan perundingan itu Israel berencana untuk membebaskan 104 tahanan Palestina yang ditahan sejak lama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar